Parcel dan Sejarahnya

Kata “PARCEL” sudah sangat akrab di telinga kita. Tapi untuk Indonesia–entah di negara lain–apakah parcel juga banyak dilakukan oleh siapapun berkenaan untuk turut bergembira dalam suatu perayaan.

Sebenarnya makna dari parcel mungkin awalnya sudah ada sejak zaman penjajahan dulu (entah tepatnya kapan). Ketika masa krisis tersebut, banyak para wanita tg ingin ikuta angkat senjata tapi apa daya karena takut, ingin menjadi tenaga sukarelawan dengan membawakan makanan kepada para pejuang tg sedang bertempur. Kebetulan hari raya, mereka pun selalu begitu karena sudah biasa membawakan makanan bagi keluarga pahlawan “tanpa nama” tersebut.

Parcel baik itu parcel natal maupun lebaran sudah tdk boleh–waktu itu sedang keras-kerasnya pernyataan lembaga tg baru lagi, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi. Dikhawatirkan ada maksud di dalam pembawaan Parcel baik itu parcel natal maupun lebaran tersebut maka melalu presiden, Parcel baik itu parcel natal maupun lebaran ditdk-bolehkan bagi semua pejabat maupun staf kepada atasannya, atau sebaliknya.

Memang imbauan keras tersebut tdk selalu digubris. Bukti masih banyak penjual Parcel baik itu parcel natal maupun lebaran di pinggir-pinggir atau Swalayan, pasar tradisionil tg menjajakan parcel. Mungkin sebagian orang niatnya karena untuk memberikan kepada saudara-saudara tg lain, bukan kepada kerabat kerja.

Tapi, jika ditemukan ada seoarng staf atau pegawai tg melakukan pemberian parcel, adakah sanksinya? Lantas, jika Parcel baik itu parcel natal maupun lebaran diganti bungkusan dari daun atau bungkusan biasa tapi isinya hanya kue dan cokelat, apa kena sanksi juga?

Sumber: lomba.kompasiana.com