Pengguna Internet Bali 2012

Pada 21 Mei – 20 Juni 2012 lalu, Sloka Insitute mengadakan survei online (dalam jaringan, daring) tentang Perilaku Pengguna Internet di Bali. Selama satu bulan, survei mendapatkan responden sebanyak 401 pengguna internet di Bali maupun dari Bali yang tinggal di luar Bali. Ada 35 pertanyaan yang secara umum terbagi menjadi tiga topik besar, yaitu profil pengguna internet, perilaku penggunaan internet, serta pola konsumsi dan persepsi terhadap media massa.


Hingga 2009 lalu, jumlah pengguna internet di Bali sekitar 450.000 orang, atau 13 persen dari sekitar 3,5 juta penduduk Bali. Jumlah ini mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) 2010 bahwa prosentase rumah tangga di Bali yang pernah mengakses internet pada tahun 2009 sebanyak 12,36 persen. Dibandingkan dengan 450.000 jumlah pengguna internet di Bali, maka jumlah responden survei ini hanya sekitar 0,1 persen dari jumlah populasi. 

Oleh karena itu, hasil survei ini tidak bisa dianggap telah mewakili seluruh pengguna internet di Bali. Dia hanya menjadi referensi. Metode survei ini adalah dengan pengisian secara online. Tidak ada batasan usia bagi responden. Satu-satunya batasan adalah bahwa pengguna internet tersebut tinggal di Bali atau berasal dari Bali. Hasil dan Analisis Banyak temuan menarik berdasarkan hasil survei tersebut. 
Namun, setelah menganalisisnya maka kami menyimpulkan 10 fakta tentang pengguna internet di Bali.

1. Dominasi 
Laki-laki dan Berusia Muda Hampir tiga dari empat pengguna internet di Bali adalah laki-laki. Dari seluruh responden, 70 persen adalah laki-laki, sedangkan perempuan 30 persen. Dari sisi usia, pengguna internet di Bali sebagian besar berumur kurang dari 30 tahun, sebanyak 72,5 persen. Responden berusia antara 30 – 39 tahun sebanyak 21,8 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna internet di Bali adalah laki-laki dan berusia di bawah 30 tahun. 

2. Banyak yang Berpendidikan Tinggi Berdasarkan tingkat pendidikan, terlihat bahwa sebagian besar pengguna internet di Bali sedang atau sudah lulus diploma atau sarjana (69,6 persen). Bahkan ada pula yang lulusan master atau doktor, yaitu 6,9 persen. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan lulusan SMP (2,6 persen). Adapun responden lulusan SMA sebanyak 20,7 persen atau satu dari lima orang. Dari sisi pekerjaan, pengguna internet di Bali paling banyak bekerja sebagai karyawan swasta (36 persen) dan pelajar atau mahasiswa (35,7 persen). Menariknya, jumlah pekerja kreatif, seperti penulis, desainer, dan musisi merupakan pekerjaan terbanyak keempat meski hanya 9,4 persen, kalah dengan wiraswasta (12,6 persen). Jumlah pekerja kreatif ini lebih banyak dibandingkan PNS, pekerja LSM, ataupun anggota TNI dan Polri. 


3. Internet Masih Terpusat di Bali Selatan Sejak awal kehadirannya di Bali, internet masih terpusat di daerah perkotaan, yaitu Denpasar dan sekitarnya. Hasil survei ini pun menguatkan hal tersebut. Hampir 85 persen pengguna internet berada di Denpasar (54,2 persen), Badung (15,7), Tabanan (7,1), dan Gianyar (6,8). Empat kabupaten/kota ini merupakan pusat pariwisata Bali yang juga dikenal dengan nama Sarbagita. Data ini menunjukkan bahwa perkembangan internet di Bali masih menghadapi tantangan seperti di tingkat global maupun nasional, yaitu tingginya kesenjangan (gap) antara daaerah urban (perkotaan) dan rural (perdesaan). Jika jumlah pengguna internet di Sarbagita hampir 85 persen, maka di daerah lain, sangat kecil, yaitu Buleleng (5,8 persen), Jembrana (3,9 persen), Karangasem (3,4 persen), Klungkung (2,1 persen), dan Bangli (1 persen). 

4. Belajar pada Awal Masuknya Internet Internet mulai masuk di Bali pada akhir 1990-an atau awal 2000-an. Salah satu indikatornya adalah munculnya internet service provider (ISP) di Bali dan warung internet (warnet) di Denpasar dan Kuta. Pada periode ini banyak warga Bali yang pertama kali mengenal internet. Hal ini sebagaimana terlihat pada hasil survei. Hampir separuh pengguna internet di Bali (41,4 persen) mengaku belajar internet pertama kali lebih dari 10 tahun lalu atau pertengahan 1990-an. Sedangkan mereka yang belajar pada 6 – 10 tahun lalu sebanyak 37,6 persen. Artinya, pengguna internet di Bali sebagian besar sudah belajar sejak awal masuknya internet di Bali. Adapun mereka yang mengenal internet antara 1 – 5 tahun lalu ada 19,2 persen dan yang kurang dari setahun cuma 1,8 persen. Menariknya, 4 dari 10 pengguna internet di Bali belajar internet sendiri secara otodidak (40 persen) atau dari teman (39,8 persen). Jika keduanya digabungkan, berarti hampir 8 dari 10 pengguna internet di Bali belajar internet sendiri atau dari teman. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan belajar dari sekolah, guru, atau dosen (13,5 persen) serta orangtua (6,6 persen). 

5. Hemat Pengeluaran untuk Internet Dengan harga layanan internet yang makin terjangkau, maka pengguna internet di Bali pun relatif tak terlalu banyak mengeluarkan biaya berinternet. Enam dari 10 pengguna internet di Bali memang mengalokasikan anggaran khusus untuk internet, namun jumlahnya tak terlalu banyak, hampir separuh responden (48,7 persen) hanya menghabiskan biaya Rp 10.000 – Rp 100.000 per bulan. Kurang dari separuh lainnya (40,2 persen) mengeluarkan anggaran antara Rp 100.000 – Rp 500.000. Meskipun demikian, ada pula responden yang mengalokasikan anggaran untuk berinternet antara Rp 500.000 – Rp 1.000.000 (3,6 persen) atau bahkan lebih dari Rp 1.000.000 (1,3 persen). 

6. Tingginya Intensitas Pengguna Internet Bergerak (Mobile) Dibandingkan dengan 10-15 tahun lalu, gawai (gadget) dan nomor telepon seluler (ponsel) saat ini makin murah dan terjangkau. Hal ini mengakibatkan tingginya pengguna internet bergerak (mobile), termasuk di Bali. Menurut hasil survei, 7 dari 10 pengguna internet di Bali mengakses internet dari ponsel ataupun sabak (komputer tablet). Selain ponsel atau sabak, pengguna internet juga mengakses internet dari komputer jinjing di rumah (60,7 persen), dari kantor (34,6 persen), komputer pribadi di rumah (25,4 persen), dan dari warnet hanya 18,7 persen. Karena menggunakan perangkat bergerak, seperti ponsel, sabak, ataupun komputer jinjing, maka intensitas pengguna internet di Bali pun sangat sering. Lebih dari 8 di antara 10 orang berinternet setiap hari (86,7 persen). Mereka yang berinternet 2 – 5 kali dalam seminggu hanya 11,5 persen. Adapun yang dalam seminggu hanya sekali sangat sedikit jumlahnya, 1,8 persen. Dalam sehari, rata-rata pengguna internet menghabiskan 1 – 4 jam untuk berinternet (40,2 persen) sedangkan yang daring antara 5 – 10 jam 36,8 persen. Namun ada pula yang daring lebih dari 10 jam tiap hari yaitu 17,9 persen atau kurang dari 1 jam yaitu 5,1 persen. 

7. Berinternet demi Jejaring Sosial Menurut situs pencatat statistik jejaring sosial, SocialBakers.com, Indonesia termasuk negara dengan pengguna jejaring sosial terbanyak di dunia. Jumlah pengguna Facebook di Indonesia saat ini sekitar 43,8 juta, nomor empat terbanyak setelah Amerika Serikat, Brazil, dan India. Sedangkan menurut Semiocast.com, pengguna Twitter Indonesia berada di urutan kelima setelah Amerika Serikat, Brazil, Jepang, dan Inggris dengan sekitar 20 juta hingga akhir 2011 lalu. Tingginya jumlah pengguna jejaring sosial ini pun terjadi di Bali. Menurut survei, alasan 8 dari 10 pengguna internet di Bali berinternet adalah untuk mengakses jejaring sosial (84,8 persen). Jumlah ini lebih tinggi dibanding untuk mencari informasi-informasi aktual (82,2), mengunduh lagu, gambar, atau video (64,9), bekerja (58,8), atau mengerjakan tugas sekolah (40,2 persen). Data ini didukung pula oleh pertanyaan tentang apa yang paling banyak dilakukan pengguna internet ketika sedang berinternet. Hasilnya, 3 dari 4 pengguna internet di Bali menggunakan waktunya untuk berjejaring sosial (78 persen). Prosentase ini paling tinggi dibandingkan untuk mencari informasi di media daring (58,8 persen), mengunduh perangkat lunak atau lagu (39,9 persen), dan mengelola blog (31,2 persen). 

8. Aktif di Mailing list dan Ngeblog Selain aktif di jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, pengguna internet Bali juga aktif di mailing list (milis). Sekitar 3 dari 5 pengguna internet di Bali mengikuti milis, meski hanya satu milis (17 persen), 2 – 5 milis (38,9 persen), atau bahkan lebih dari 5 milis (8,1 persen). Sisanya mengaku tidak bergabung satu milis pun (36 persen). Media lain untuk berjejaring sosial dan berbagi di internet adalah blog. Ternyata, pengguna internet di Bali lebih banyak yang ngeblog daripada yang tidak. Sebanyak 56 persen pengguna internet di Bali mengelola blog, baik cuma 1 blog (35,4 persen), 2 blog (12,4 persen), ataupun 3 blog atau lebih (8,4 persen). Mereka yang tak punya blog sebanyak 43,8 persen. Tak ada pertanyaan tentang apakah para blogger tersebut masih aktif memperbarui blognya atau tidak saat ini. Sebab, salah satu tantangan blogger ketika jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter makin masif perkembangannya adalah makin kurangnya blogger memperbarui blog yang dikelolanya. 

9. Bukan Narsis tapi Berpikir Kritis Selama ini ada anggapan bahwa pengguna internet yang aktif berjejaring sosial adalah orang-orang narsis, lebih banyak mengunggah status, foto, atau komentar tentang dirinya sendiri. Ternyata anggapan ini tidak benar. Hal ini terlihat ketika responden menjawab pertanyaan apa yang ditulis ketika memperbarui status di Facebook. Ternyata sebagian besar responden menulis status tentang pemikiran atau komentar terhadap isu aktual (56.6 persen) atau apa yang terjadi di sekitar mereka (52,9 persen). Pengguna internet di Bali yang menulis tentang kegiatan pribadi hanya di urutan ketiga, yaitu 44,6 persen sedangkan tentang teman, pacar, atau keluarga berada di urutan paling kecil, 16,3 persen. Pemikiran dan komentar terhadap isu aktual pun paling banyak menjadi bahan kicauan (twit) oleh pengguna Twitter di Bali. Sekitar 3 dari 10 responden (30 persen) sering berkomentar terhadap isu aktual. Jumlah ini hampir dua kali lipat dibandingkan mereka yang sering berkicau tentang teman, pacar, atau keluarga (15,2 persen). Indikator lain bahwa pengguna internet di Bali cenderung kritis adalah karena 4 dari 10 responden menyatakan kadang-kadang berkicau tentang lingkungan sekitarnya (41,7 persen) dan 3 dari 10 responden malah sering berkicau tentang tema sama (31,8 persen). Bandingkan dengan responden yang berkicau tentang kegiatan pribadi, seperti pekerjaan atau sekolah. Mereka yang sering ngetwit tentang tema ini sebanyak 28,3 persen sedangkan yang kadang-kadang 34,7 persen. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan tema tentang isu aktual atau lingkungan sekitar. 

10. Masih Percaya pada Media Arus Utama Maraknya media daring sekitar dua dekade terakhir di Indonesia turut memengaruhi media yang dikonsumsi pengguna internet di Bali. Media daring menjadi media nasional paling rutin dibaca di antara semua jenis media, baik daring, cetak, maupun elektronik. Dua dari tiga media nasional yang paling banyak dibaca adalah media daring. Namun, koran dan televisi masih masuk lima besar. Artinya, konsumsi antara media daring, cetak, dan televisi oleh pengguna internet di Bali masih cukup berimbang. Terhadap berita-berita media nasional, sebagian besar responden (59 persen) mengaku sudah mendapatkan informasi memadai. Namun, mereka membutuhkan informasi lebih dalam dari berita yang sudah dipublikasikan. Hanya 20,7 persen responden yang menyatakan bahwa informasi media arus utama nasional tersebut hanya sedikit sehingga mereka harus mencari sendiri informasi yang diinginkan. Ketika ditanya apakah percaya dengan akurasi dan netralitas media nasional, 34,2 responden menyatakan informasi tersebut masih cukup netral dan akurat. Adapun yang menyatakan bahwa informasi tersebut akurat tapi tidak netral sebanyak 30,9 persen responden. 

Kepercayaan pengguna internet di Bali pada media lokal juga masih terjadi. Untuk media di Bali, survei ini tak membedakan antara media cetak, daring, ataupun elektronik. Survei ini juga memasukkan media jurnalisme warga di Bali sebagai salah satu pilihan jawaban. 

Dari survei ini, terlihat bahwa media arus utama masih menjadi media lokal yang paling banyak dibaca responden, terutama cetak harian (koran). Adapun media penganut jurnalisme warga Bali menjadi media di urutan kedua yang selalu diikuti responden. Terkait dengan tingginya responden yang mengakses jurnalisme warga, sangat mungkin terjadi karena BaleBengong, media jurnalisme warga Bali, merupakan media untuk menyebarluaskan informasi tentang survei ini. Tak hanya melalui blog tapi juga akun Twitter @BaleBengong. Oleh karena itu sebagian besar responden mungkin pembaca blog BaleBengong atau follower @BaleBengong sehingga hasil survei pun agak bias. 

Terhadap informasi media lokal, lebih dari separuh responden (50,2 persen) menyatakan sudah mendapatkan informasi yang memadai. Adapun responden yang menyatakan bahwa informasi media lokal masih sedikit sehingga harus mencari informasi sendiri sebanyak 36,2 persen. Ketika ditanya apakah percaya dengan akurasi dan netralitas media lokal, 41,6 persen responden menjawab cukup netral dan akurat. Responden lain menjawab media lokal akurat tapi tidak netral (24,1 persen) serta tidak akurat dan tidak netral (20,3 persen). Penutup Salah satu hasil menarik sekaligus penting dari survei ini adalah tentang tumbuhnya generasi baru di Bali yang melek internet serta kritis terhadap isu-isu aktual. Mereka tak hanya diam tapi juga menyatakan pendapat serta kritiknya melalui jejaring sosial, terutama Facebook dan Twitter. Fenomena ini sekaligus sebagai antitesis terhadap budaya yang telanjur melekat pada orang Bali yang dikenal koh ngomong atau malas berkomentar. Hasil survei ini membantah hal itu meskipun dari awal tidak bermaksud demikian. 

sumber:http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2012/07/12/inilah-10-fakta-pengguna-internet-bali.html/comment-page-1#comment-13852